26/06/2003
Ketika NU memulai
membangun program Website NU Online, beberapa pengurus wilayah dan cabang
dilatih dan diberi seperangkat komputer untuk menunjang kegiatan tersebut. Pelatihan
diikuti serius, karena peserta tidak ingin ketinggalan teknologi.
Walaupun mereka tidak mengenal program imptek (iman dan teknologi) seperti
dikempanyekan Islam kota, tapi dalam soal apresiasi teknologi mereka sangat
tinggi Dalam pelatihan itu tentu saja memasukkan materi peliputan, dalam setiap
diskusi salah seorang peserta selalu keliru menyebut jurnalistik menjadi
jurnalistrik. Beberapa kali kesalahannya itu dibetulkan oleh fasilitator,
tetapi masih salah terus Akhirnya lama-lama ia kesal juga, "Oke lah pak
yang penting antara jurnalistik dan jurnalistrik itu sama"
“Ya tidak sama yang satu itu media masa yang satu barang elektronik”,
"Tapi fungsinya sama"
"Apa memang kesamaaanya ?" tanya fasilitator.
"Sama-sama sarana penerangan. Tanpa keduanaya dunia gelap gulita"
(MdZ)
06/11/2009
Presiden
RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sangat
pemberani. Gus Dur tidak pernah takut kepada siapa pun, termasuk kepada polisi.
Bahkan kepada Jenderal-nya sekalipun. Hal ini pernah dibuktikan dengan
permintaan Gus Dur agar Jenderal Surojo Bimantoro (Kapolri) mengundurkan diri.
Namun rupanya, seberani apa pun seorang Gus Dur, tetap saja ada satu Jenderal
yang ditakutinya. Ketakutan pada Jenderal ini pernah diungkapkan Gus Dur seusai
sebuah konferensi pers. Yakni Gus Dur dipapah memasuki mobil dan para wartawan
tidak lagi mengerubutinya.
Sebelum Menutup pintu mobilnya, sambil setengah berbisik Gus Dur kembali
memanggil para wartawan, "Hei, saya masih punya satu informasi lagi.
Kalian mau tidak ?"
"Apa itu Gus ?" tanya para wartawan sembari serentak mengerubuiti
Gusdur Kembali di pintu mobilnya yang masih setengah terbuka.
"Saya mau sebutkan nama seorang Jenderal yang paling berbahaya dan
berpotensi mematikan siapa saja. Jenderal ini ditakuti oleh siapa saja, jadi
kalian harus berhati-hati kepada jenderal yang satu ini," ujar Gus Dur
dengan mimik serius.
"Wah, siapa itu Gus ?" sambut para wartawan sambil berebut
menyorongkan alat perekamnya sedekat mungkin ke wajah Gus Dur. Mereka tampak
sangat mendapatkan berita eksklusif itu.
"Ok, saya harus katakan," kata Gus Dur meyakinkan. "Jenderal itu
adalah Jenderal..(General) Electric ..."
"Wooo kok itu sih Gus ?" protes para wartawan.
"Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Padahal kan saya kan bener.
Bahwa General Electric itu paling berbahaya. Coba, mau nggak kamu kesetrum
lampunya General Electric ? Berbahaya khan ?!, kamu bisa mati kan kalau
kesetrum????"
"Huuuuuuuu," balas para wartawan serentak, sambil bersunggut-sunggut
dan ngeloyor ke belakang. (min)
14/02/2010
Alkisah, Ahmad, seorang ketua RT
akan menunaikan ibadah haji. Sebagai seorang ketua RT yang berpengaruh, Ahmad
didatangi oleh para tetangganya.
“Tolong, nanti kalau di depan Multazam, anak saya si Badu didoakan agar
meninggalkan sikap badungnya,” kata Pak Kasimo yang memiliki anak super badung,
dan selalu meresahkan kampong.
“Saya mohon pak Ahmad mendoakan saya agar segera naik pangkat, karena status
saya sebagai pegawai kok stagnan,” pinta Pak Abdul, seorang pegawai rendahan di
sebuah instansi.
“Semoga saya segera mendapatkan jodoh yang baik,” harap Alisa yang usianya kian
menua, tapi tak kunjung dapat jodoh.
Walhasil, ternyata yang meminta didoakan pak Ahmad cukup banyak, sehingga pak
Ahmad berinisiatif untuk mencatat semua “aspirasi” warganya itu.
Tiba hari H, ketika pak Ahmad selesai melakukan thawaf, pak Ahmad berdoa di
depan Multazam dengan khusyu’, sambil mengeluarkan catatan “aspirasi” warganya
yang berlembar-lembar.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Suasana di depan Multazam
sangat padat, dan sangat riuh oleh orang-orang yang berdoa atau orang-orang
yang bertawaf. Setiap pak Ahmad mulai menyebut nama tetangganya satu persatu,
pada saat itu juga datang arus besar massa yang mendesak tubuhnya. Praktis ia
kesulitan untuk dapat membaca lampiran catatan aspirasi warganya.
Dan tiba-tiba, lampiran catatan aspirasi warganya pun hilang, sehingga pak
Ahmad pun agak panik dan sedih. Maka meluncurlah kata-kata pak Ahmad dalam
doanya “Ya Allah, kabulkanlah doaku beserta lampirannya!” Amin !